Kualitas Pendidikan Kita Semakin Meningkat?
Hingar-bingar Ujian Nasional telah usai, dengan diumumkannya hasil Ujian Nasional baik tingkat SMP maupun SMA. Dan seperti biasa, tingkat kelulusan siswa-siswi pada tahun pelajaran 2008/2009 ini pun sangat baik, mencapai lebih dari 90 %. Di sana-saini masih terdengar beberapa sekolah kurang berhasil meluluskan para peserta didiknya, bahkan dikabarkan ada yang tingkat kelulusannya nol %. Namun berita ini seakan tenggelam dalam lautan kegembiraan para siswa, orangtua murid, para guru maupun semua pihak yang terkait dengan keberhasilan ini. Semua tenggelam dalam sebuah rasa haru, para siswa kita lulus, dan bahkan lulus dengan nilai-nilai yang mencengangkan. Semua ini seakan menhapus kekuatiran kita akan mutu pendidikan di tanah air kita. Satu indikator menghapus seluruh indikator penentu kualitas pendidikan pada umumnya.
Pada titik ini kita perlu sejenak merenung dan bertanya diri, apakah benar hasil ujian nasional telah menggambarkan dengan tepat mutu sekolah-sekolah kita dalam menghantar para generasi muda untuk menggapai masa depannya dengan cemerlang? Apakah tingginya nilai Ujian Nasional menjadi indikator keberhasilan seorang siswa ketika kelak ia harus berhadapan dengan realita hidup yang sesungguhnya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terasa lebih meradang lagi, bila kepada para siswa ditanyakan bagiamana mungkin mereka bisa memperoleh nilai Ujian Nasional yang sedemikian tinggi, padahal sehari-harinya mereka benar-benar ngos-ngosan untuk mencapai nilai ulangan atau try-out yang cukup baik. Mereka pasti paling tahu, apa yang mereka lakukan, di saat-saat terakhir mereka harus berhadapan dengan apa yang disebut Ujian Nasional itu. Di sinilah letak titik krusial, di mana ukuran mutu sekolah dipertaruhkan dalam sebuah sikap mentalitas instant. Di sini pulalah, masa depan seperti apa dari para siswa kita sudah mulai terpatri, menjadi manusia instant atau menjadi manusia sukses. Kalau sudah demikian, benarkah mutu pendidikan kita semakin meningkat dengan adanya peningkatan lulusan Ujian Nasional? (Baca)
Visioner VS Dreamer
Setiap insan tentu mempunyai impian dalam hidup. Sekecil apapun, dalam benak setiap kita, ada suatu getaran yang mendorong untuk mencapai sesuatu di kemudian hari. Impian atau cita-cita atau mungkin sekedar hayalan. Ada dua kutub, di ujung yang satu, ada cita-cita kuat dan jelas untuk dicapai, sementara di ujung yang lain, hanya sekedar sebuah bayangan samar-samar. Di sinilah berdiri berhadapan dua sosok manusia, si Visioner dan si Dreamer. Keduanya memiliki kesamaan, yakni sama-sama pemimpi. Tapi, ada perbedaan yang tajam di antara keduanya. Apa itu? Yang satu akan benar-benar menggapai apa yang diidamkannya, sementara yang lain takkan pernah mencapai apa yang diimpikan. Di manakah letak perbedaannya? Nah, di sinilah titik kritis yang membedakan seorang visioner dan dreamer. Si visioner berhasil mencapai tujuannya karena karena ia tahu ia akan mencapainya. Karena ia tahu mencapainya, maka ia menggunakan cara untuk mencapai impian. Tentu saja cara telah dipertimbangkan dengan matang untuk menghasilkan secara lebih berdayaguna dan berhasilguna. Ini tentu berbeda dengan si dreamer, yang hanya bermimpi. Ia bermimpi, tapi tanpa menggunakan cara, karena memang ia tidak tahu bagaimana mencapai tujuan impiannya. Jadi ia tak memiliki cara atau alat apapun. Jadi ..bila ingin menjadi seorang visioner, milikilah cara untuk mencapainya.
Mengapa Kita Sulit Berubah?
Pernahkah anda berpikir bahwa supaya menggapai hidup yang lebih baik, anda perlu berubah? Sudah berapa lama anda berpikir demikian?
Saya mengucapkan selamat kepada anda kalau mulai berpikir untuk mengubah diri supaya hidupmu semakin bermakna dan berkualitas. Anda sudah berhasil mencapai langkah yang pertama. Kalaupun belum melangkah, anda sudah mulai berpikir melangkah, itu sudah bagus.
Sekalipun demikian, kita perlu menyadari bahwa berubah merupakan sesuatu yang tidak gampang. Kita mengamati baik diri kita sendiri, maupun orang-orang di sekitar kita tampaknya sangat sulit untuk berubah. Bahkan kalau kita sudah memiliki niat setingi langit, tetapi terasa sangat berat.
Akibatnya kita kembali terpuruk. Tampaknya sudah ada harapan, tapi jatuh lagi, jatuh lagi. Akibatnya bisa saja kita berhenti berjuang.
Kalau sudah demikian keadaannya, apalagi yang harus kita perbuat? Menyerah? Atau bertindak?
Nah, saya akan mencoba mencari tahu mengapa kita sulit berubah dengan penelusuran dalam buku-buku bacaan ilmiah maupun dalam relung hati. Saya akan membagikan untukmu dalam blog ini dalam bentuk tulisan. Saya mengajak anda pun berbuat demikian, agar kita dapat saling melengkapi dalam pencarian dan petualangan guna menemukan sebuah jawaban yang bermanfaat. OK, setuju?
Download
Dapatkan materi-materi sangat istimewa melalui ruang ini. Download apa pun yang Anda butuhkan. trim atas kunjungannya.
Hidup itu sebuah tamasya indah
Hdup itu sebuah tamasya indah!!! Membaca kalimat ini, lalu berhenti sejenak untuk merasakannya, tentu akan mendatangkan beragam reaksi dari dalam. Apa yang tak berpikir panjang, langsung saja setuju 100 persen. Sementara itu, ada juga yang langsung memberontak menyangkal kalimat ini. Ya ini hanya sebuah kalimat, tersusun dari beberapa kata. Titik. Tidak lebih.
Namun justru warna-warni reaksimu itulah yang memberi makna pada kalimat ini, atau lebih tepatnya memberi makna pada diri anda sendiri! Hm…. apalagi nih. Ya sejauh bagaimana reaksi anda terhadap kalimat ini, sejauh itu pulalah makna hidup anda.
Bagi anda yang setuju, hidupmu memang sebuah tamasya indah. Sebuah perjalanan keindahan, yang senantiasa dinikmati, karena memang merupakan sebuah anugerah dari Yang Mahakuasa.
Sementara bagi anda yang tidak setuju, ya jelas bagimu, bahwa itulah warna kehidupanmu selama ini, kelam, atau bahkan hidup. Jadi pasti bukanlah sebuah tamasya indah, mungkin sebuah penjara gelap.
Nah, sekarang kesempatan anda memikirkan ulang, hanya sejenak saja. Apakah anda akan meneruskan hidup macam apa? Mau yang tamasya indah atau penjara gelap?
Ada kabar gembira untukmu, bahwa anda bisa menata ulang hidupmu ke depan. Memang hidup hidupmu itu indah, seperti rencana Sang Pemberi Hidup. Jadi, anda bisa memikirkan dan menata ulang hidupmu. Bagaimana caranya? Nah, pertanyaanmu bagus. Memang mudah dilakukan, kalau kita tahu caranya.
Ada banyak cara, tentu saja. Bisa dengan jalan kaki, arti perlahan-lahan. Bisa pula dengan sepeda, sepeda motor, mobil bahkan pesawat, sesuai tingkat kecepatan yang anda yang sukai.
Lalu, persisnya bagaimana?
Sabar, dong, jangan buruan.
Tunggu, tulisan berikutnya. Kalau menurutmu?
Penerimaan Siswa Baru
Penerimaan calon siswa baru SMP Vireta sedang berlangsung. Hari, 9 Pebruari 2009 telah dimulai wawancara penerimaan. Dari 185 siswa yang mendaftar, semuanya akan diseleksi untuk diterima sebanyak 160 siswa di SMP Tarsisius Vireta.
BOCOR
Bocor…semua bocor…rahasia bocor, genteng bocor, ember bocor, atap bocor, rahasia bocor, soal bocor….bagaimana kalo bisul bocor. Gimana rasanya bocor-bocor itu mempengaruhi emosi kita? Sedih, marah, takut, senang, bangga, dssssssssssssssssssssssssssst. Diam!!!
BERUBAH
Sedikit sedikit “berubahlah!”, sedikit sedikit “berubahlah!”. Berubah kok cuma sedikit-sedikit?
Seorang musafir kehidupan berpetualang ke seluruh penjuru dunia dan melihat betapa lambannya semua orang untuk berkembang. Dengan semangat mudanya, ia berteriak di dalam doanya, ya Tuhan ubahlah semua orang di dunia ini, agar hidupnya semakin cepat berkembang. Begitulah seruan itu nyaring terdengar sampai berpuluh-puluh tahun, tapi tak ada yang berubah. Ia menepi gelisah di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon yang rimbun dedaunannya. Ia berbisik dalam doanya, ya Tuhan, kalau begitu ubahlah orang-orang di sekitarku saja. Ia puas. Menyadari realitas baru, dan kali ini ia yakin, doanya pasti terkabul. Hari, bulan, tahun terus berlalu. Sampai rambutnya pun sudah beruban, namun tidak ada yang berubah. Dan kali ini, ia sendiri akhirnya berubah, setidaknya dalam gema doanya berikut ini, “Ya, Tuhan, ubahlah diriku sendiri. Betapa aku telah menyia-nyiakan waktu untuk mengharapkan perubahan pada orang lain, namun semua itu akan terjadi ketika aku sendiri harus terlebih dahulu berubah. Sebuah teladan tindakan lebih bermakna dari sebuah kata.
Pola Pikir Seorang Pendidik
Seorang pendidik merupakan salah satu agen perubahan. Seiring dengan fungsi dunia pendidikan sebagai transformasi peradaban, maka pendidik merupakan fasilitator transformasi itu. Dengan demikian pendidik memiliki peran kunci (key-role) di dalam proses perubahan.
Sementara itu perubahan terjadi bilamana dimulai dari diri sendiri, tepatnya pada pola pikir seseorang. Suatu pola pikir yang telah membeku dan statis, dipastikan tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Syukur-syukur kalau pola pikir yang statis itu merupakan sebuah bangunan yang “berbentuk”. Bila sebaliknya, justru menjadi sumber persoalan, maka pola pikir semacam itu harus diubah.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pola pikir seorang pendidik sangat penting dalam merekayasa sebuah perubahan bermakna. Itulah sebabnya pola pikir seorang pendidik senantiasa harus bersifat dinamis. Berubah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, dan terutama berubah dari hal-hal yang sifanya menghambat menuju hal-hal yang membangun. Bila kunci perubahan menuju peradaban ada di tangan seorang pendidik, maka seorang pendidik harus mampu mentransformasi pola pikirnya menjadi sebuah “mesin konstruktif” bagi kemajuan peradaban yang salah satunya dimotori oleh dunia pendidikan.