Pola Pikir Seorang Pendidik

Maret 11, 2008

Seorang pendidik merupakan salah satu agen perubahan. Seiring dengan fungsi dunia pendidikan sebagai transformasi peradaban, maka pendidik merupakan fasilitator transformasi itu. Dengan demikian pendidik memiliki peran kunci (key-role) di dalam proses perubahan.

Sementara itu perubahan terjadi bilamana dimulai dari diri sendiri, tepatnya pada pola pikir seseorang. Suatu pola pikir yang telah membeku dan statis, dipastikan tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Syukur-syukur kalau pola pikir yang statis itu merupakan sebuah bangunan yang “berbentuk”. Bila sebaliknya, justru menjadi sumber persoalan, maka pola pikir semacam itu harus diubah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pola pikir seorang pendidik sangat penting dalam  merekayasa sebuah perubahan bermakna. Itulah sebabnya pola pikir seorang pendidik senantiasa harus bersifat dinamis. Berubah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, dan terutama berubah dari hal-hal yang sifanya menghambat menuju hal-hal yang membangun. Bila kunci perubahan menuju peradaban ada di tangan seorang pendidik, maka seorang pendidik harus mampu mentransformasi pola pikirnya menjadi sebuah “mesin konstruktif” bagi kemajuan peradaban yang salah satunya dimotori oleh dunia pendidikan.


PIKIRAN KOTOR

Maret 6, 2008

Sudah pernah mendengar ungkapan “pikiran kotor”? Belum? Ah, yang benar aja. Kayak nggak berpijak di planet ini aja. Apa yang muncul di pikiran Anda sewaktu membaca judul artikel ini? Ya … pada umumnya kita langsung mengasosiasikan pikiran kotor dengan pikiran jorok atau pikiran porno. Ada akronim Sukirno, suka pikiran porno.
Yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah pikiran kita hanya dikotori oleh hal-hal yang jorok atau yang berbau porno itu saja? Belum tentu! Ah, kok belum tentu? Ya yalah! Kata-kata atau konsep dari “dunia” porno atau jorok memang mengotori pikiran seseorang. Tapi kan kata-kata atau konsep dari “dunia lain” pun bisa mengotori pikiran kita. Sebut saja marah, benci, dendam, bohong, bodoh, goblok, dengki, selingkuh, dan sejuta deret kata-kata yang termasuk dalam kategori negatif pasti akan mengotori pikiran. Jadi sebagaimana ada polusi udara, ada pencemaran air, ada juga polusi pikiran, pencemaran pikiran. Jadilah pikiran itu “kotor”. Dengan demikian, pikiran kotor bukan hanya berhubungan dengan pikiran jorok atau porno, melainkan pikiran yang dicemari oleh berbagai kata atau konsep negatif.